Wah…kok bisa? Padahal kan sakit itu bisa berupa peringatan, ujian, cobaan atau bahkan azab dari ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala?” “Arikel ini apa tidak salah judul?” Mungkin ini sebagian pertanyaan yang sempat muncul di benak anda ketika membaca buletin ini (salah kali!!).
Insya ALLAH, artikel ini tidak salah judul…dan kami tegaskan lagi bahwa “Sakit itu Nikmat”, tergantung dari sisi mana kita menilainya. Pernyataan bahwa sakit itu berupa peringatan, ujian, cobaan, dst…dst.., tidak kita katakan salah…tapi mari kita coba lihat dari sudut pandang yang ’sedikit’ berbeda.
Bagi sebagian orang, sakit itu berarti:
v Mengurangi jam kerja (tidak masuk kantor), otomatis selama sakit dia tidak perlu pusing memikirkan urusan pekerjaan. Cukuplah dia ‘pusing’ memikirkan penyakitnya saja…dan usaha untuk sembuh. Jadi, Sakit itu NIKMAT, KARENA TIDAK PERLU MEMIKIRKAN URUSAN KANTOR.
v Sakit itu berarti mengingat mati. Dan bagi banyak orang, dengan mengingat mati, maka akan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dengan demikian, dia akan lebih banyak meluangkan waktunya dengan ALLAH Ta’ala, mengadu, berdoa, memohon pertolongan kepada ALLAH Ta’ala. Jadi, Sakit itu NIKMAT, karena KITA BISA LEBIH DEKAT DENGAN ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala. Cobalah tadabburi firman Allah Ta’ala berikut ini :
Artinya : Dan apabila kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, Maka ia banyak berdoa.(Surat Fushshilat : 51)
Coba perhatikan lagi ayat ini, pasti nyata dalam kehidupan kita bahwa kita lebih dekat dengan Allah ketika sakit dan susah daripada kita sehat dan senang. Kesehatan dan kesenangan inilah sebenarnya yang menjadi pendorong Firaun untuk durhaka kepada Allah sampai-sampai ia berani mengatakan :
Dia(Firaun) berkata:"Akulah Tuhanmu yang paling tinggi". (Surat An-Naazi’aat). Apa kita mau seperti Firaun yang konon katanya tak pernah sakit, tapi akhirnya mati dalam kedurhakaan dan kemurkaan Allah Ta’ala. Jawabannya adalah : TIDAK…TIDAK.
Cobalah renungkan kembali hadits Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam berikut :
« إذا رأيت الله – عز وجل – يعطي العبد من الدنيا على معاصيه ما يحب؛ فإنما هو استدراج » ثم تلا قوله – عز وجل: { فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ }{ فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } (الأنعام: 44 – 45) . أخرجه أحمد والطبراني.
Artinya : “ apabila engkau memperhatikan Allah Azza Wajalla memberikan kepada hambanya kesenangan dunia yang dia cintai padahal dia sendiri selalu bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidroj (penguluran waktu)” lalu beliau membaca Firman Allah : Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (H.R Ahmad dan Thabrani).
v Jika ada seseorang sakit, maka dia akan:
== lebih dekat dengan keluarga (karena diurus). Jadi, Sakit itu NIKMAT, karena MERASAKAN KASIH SAYANG DARI KELUARGA YANG MASIH DIA MILIKI.
== banyak diberi makanan yang (lebih) bergizi dari biasanya. Jadi, Sakit itu NIKMAT, karena MENDAPATKAN GIZI YANG LEBIH.
Namun dari sekian banyak alasan yang kami tulis di atas, kami tersentuh dan merasa takjub ketika kami membaca satu artikel tentang orang buta. Di situ, diceritakan seorang perempuan yang buta sejak kecil. Satu ketika, teknologi sudah memungkinkan untuk melakukan operasi terhadap cacat mata yang dia derita sejak lahir. Ketika usulan operasi ini diajukan kepadanya, secara tegas dia menolak. Alasan yang dia berikan:”Biarlah saya buta, karena dengan kebutaan yang saya alami ini, saya jadi lebih dekat dengan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala serta bersyukur dengan apa yang telah saya dapat dan DIA berikan pada saya. Jika saya tidak lagi buta (karena dioperasi), bisa jadi saya malah akan jadi orang yang durhaka dan kufur nikmat-Nya. Bisa jadi saya akan melakukan banyak maksiat dengan mata baru saya. Jadi, biarkan saya buta….”
Duh…merinding rasanya saat membaca artikel itu (bahkan hingga kini). Sedemikian hebatnya cinta sang perempuan itu kepada Sang Khaliq, sehingga dia merasakan kebutaan itu adalah bukti cinta-Nya kepada dirinya.
Dan kami jadi teringat dengan hadits Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
« عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ »
“Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.” (HR Muslim).
Tentunya, kita tidak berharap untuk sakit setelah membaca makalah ini, karena itu namanya ya “cari penyakit”. Sikap yang benar adalah kita harus berusaha tetap sehat, kalau pun sakit tidak mengapa, asal jangan penyakitan.
Sakit itu juga bukanlah suatu masalah, tapi yang masalah adalah tidak tahu apa sakit yang sebenarnya. Kalau kita sakit kepala, gigi, perut, kanker, jantung dan seterusnya, itu ya wajar-wajar saja dan tidak perlu terlalu khawatir, tapi yang perlu diperhatikan dan dikhawatirkan adalah sakit ruhani, seperti malas solat, iri, syirik, dengki, sombong, jarang baca Al-Quran dan lain-lain, maka inilah penyakit yang sebenarnya yang harus dihindari dan diobati secepatnya. Alasannya kenapa? karena kita tidak ditanya nanti di akhirat kenapa kamu sakit kanker, kepala atau yang lainnya. Tapi yang ditanya kenapa syirik, dengki, sombong, malas baca Al-Quran, dan seterusya. Jadi awas hati-hati sakit yang seperti ini karena obatnya tak ada di warung, dijual di supermarket.
Kita katakan lagi : Sakit itu Nikmat, sakit bukanlah masalah, tapi yang menjadi masalah, kalau menambah masalah, maksudnya sudah sakit tak sabar pula, tak rela dengan ketentuan Allah, maka ini sakit yang lebih parah, masalah yang lebih besar. Sudah jatuh kena timpa tangga lagi, trus kena cat lagi, ditambah kuas pula menimpa mukanya. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Itulah ibaratnya.
Kami rasa cukup sekian, mudah-mudahan kita tidak sakit, selalu sehat, tentunya sehat rohani yang paling penting. 
0 komentar:
Posting Komentar